-HEADLINE-
BBM Me
Join This Site
XkresssX Technology Is Valid HTML5
  • Keep Strong And Fight Back
  • Gia48

Popular Post

Blog Archive

Posted by : Gia primana April 01, 2013

Rasa Yang Tak Terucap



Suasana kelas terasa sangat ribut, tapi aku memilih untuk diam sambil memperhatikan gadis manis yang duduk di depan ku. Melody namanya, sesuai namanya dia selalu melantunkan melody melody cinta di hati dan pikiranku, sehingga terkadang membuatku senyum-senyum sendiri.
Biasanya aku sangat merasa bosan bila berada di kelas, tapi semenjak aku suka pada Melody, semua berubah 180 Derajat, aku sangat betah bila berlama-lama di dalam kelas. Tapi sayang, walau ku suka namun tak terucapkan. Terkadang dari belakang aku selalu berbisik pada Melody, aku menyatakan bahwa aku suka padanya. Tapi itu tidak pernah terdengar olehnya, di karenakan bisik ku sangat amat kecil. Sehingga tidak mungkin Melody mendengarku.
Mungkin bagi Melody kami hanyalah teman sekelas saja, yang jalan pulangnya searah, dan keberadaanku yang seperti angin. yang selalu bercanda padahal kita selalu saling bicara, mengapa hari ini cinta tak abadi yang berputar jauh.  Melody adalah bunga sekolah, banyak sekali pria di sekolah ini yang mendambakannya, tapi tak satu pun yang bisa memikat hati Melody. Termasuk aku, bagaimana aku bisa memikat hati Melody jika ngomong saja aku tidak berani.
Bel istirahat pun berbunyi, membuat lamunannku ke arah Melody pun buyar seketika.
“Kantin yuk?” Ajak teman semejaku, dan kebetulan kami sudah berteman sejak kecil. Dan aku sering bercerita padanya tentang Melody.
“Iya.” Aku mengangguk dan mengikutinya ke kantin sekolah.
Di kantin kami mencari tempat duduk dan memesan makanan. Dari kejauhan aku melihat Melody bersama teman-temannya. Ia berjalan ke arah ku, dan itu sukses membuat ku menjadi GR. Ternyata ia bukan akan menemuiku, melainkan duduk di meja belakang dekat tempat ku duduk.
“Huuh andai aku punya keberanian. Perasaan ini, ku sangat ingin mengutarakan pada mu.” Ucapku dalam hati sambil mencuri-curi pandang ke arah Melody yang sedang ngobrol dengan teman-temannya.
“Masih belum berani?” Tiba-tiba temanku sudah ada di hadapanku sambil membawa makanan dan minuman.
“Eh, kenapa?”
“Hmm, masih belum berani buat bilang ke Melody kalo lu suka sama dia?” Tanya temanku serius.
“Kayaknya belum, udah ah gue laper.” Aku pun menarik makanan yang ada di tangannya. Temanku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah selesai makan kami kembali ke kelas, Melody masih duduk di kantin bersama teman-temannya. Saat melewatinya aku tersenyum, dia pun membalas senyumanku.
“Ahh senyumannya itu. Ga akan pernah bikin bosan deh, bahkan selalu bikin kangen.” Ucapku dalam hati dan meninggalkan kantin.
Sebelum kelas hari ini selesai, ada sedikit pembagian kelompok belajar dari guru kami. Dan hari ini aku sangat amat merasa bahagia karena aku dan Melody satu kelompok, berarti aku akan sering bertemu Melody.
“Yey! Thanks God.” Ucapku dalam hati sambil senyum-senyum.
Saat menuju parkiran, aku melihat Melody jalan ke arah ku, dan kali ini memang benar ia menghampiriku.
“Jadiii kita mulai belajar kapan?” Tanya Melody dengan suara yang lembut.
“Ohh kapan aja boleh kok.” Aku agak gemetar.
“Kamu bisanya kapan?”
“Kapan aja aku bisa kok.” Balasku sambil tersenyum.
“Haha, kamu mah bisa bisa mulu jawabnya. Ya udah deh, nanti kerumah ku dulu aja ya. Tau kan rumah ku?” Aku pun terpana.
“Oh iya-iya tau kok. Kalo nyasar mah ntar bisa di liat di Google Maps aja.” Balasku sambil bercanda.
“Hahaha.” Melody pun tertawa.
“Mau bareng ga ?” Tanya ku pada Melody.
“Hmm ga usah deh, aku udah di jemput. Mungkin lain waktu ya.” Melody tersenyum lalu berjalan meninggalkan ku. aku hanya tersenyum dan masuk ke mobil.
*
Sore aku pergi ke rumah Melody yang hanya berjarak 4 blok dari rumah ku. Aku memilih untuk naik motor, di karenakan aku tidak di izinkan menyetir mobil sendirian.
Kurang dari 10 menit aku sampai di depan rumah Melody. Nampak Melody sudah menunggu di sebuah kursi taman di halaman depan rumahnya. Saat meliaht ku ia segera beranjak dan mendekati ku.
“Ayo masuk dulu.” Ucap Melody sambil tersenyum dan membukakan pagar untuk ku. Aku membalas senyumannya dan masuk ke rumahnya.
“Kamu duduk dulu ya, aku ambil minuman dulu.” Melody pergi ke dapur. 5 menit kemudian nampak Melody membawa dua orange juice.
“Minum dulu ya.” Ucap Melody sambil member satu orange juice kepadaku.
“Semoga ga diabetes ya allah.” Ucapku dalam hati dan meminum orange juice yang manis itu.
“Jadi gimana? Kita mulai belajar kelompoknya kapan?” Melody bertanya padaku.
“Kapan aja bisa kok.” Balasku sambil senyum-senyum genit.
“Kita mulai besok aja kali ya.”
“Oke.” Balasku singkat, jelas, padat, actual, tajam, terpercaya.
“Oke oke mulu, awas aja kalo ga beres ntar, aku cubit.” Ucap Melody bercanda.
“Yaah di cubit ternyata, aku pikir tadi di cium.” Balasku.
“Iihh genit.” Melody mencibiriku.
“Hmm, ya udah aku balik dulu ya.” Ucapku pada Melody.
“Ga mau makan malam disini aja?” Tanya Melody.
“Mau bangettttt.” Ucapku dalam hati saja.
“Kapan-kapen deh ya, hahaha.” Aku diantar Melody sampai gerbang rumahnya. Aku naik ke motor ku. Aku segera menstarter motor dan pulang ke rumah.
*
Hari sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi mata ku belum bisa tidur. Yap tidak lain, tidak bukan ini karena kepikiran Melody. Aku memang sudah suka Melody lumayan lama, semenjak masuk SMA aku sudah terpukau akan kecantikan Melody, tapi sayang aku tidak pernah berani mengutarakannya, sampai saat ini, saat kami sudah mau lulus.
Ku ambil gitar yang ada di sebelah ku, ku petik dan kunyanyikan sebuah lagu, untuk Melody yang ada di blok sana


“Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai lamunan. Melihat kamu yang duduk di depanku, membuat rasa sakit timbul di dada. Walau ku suka namun tak terucapkan, hanya pada sosok mu ku bisikan perasaanku.” Aku teridiam lalu tersenyum.
“Poniiteru, membuat ku sedih, di dalam mimpi. Seluruh dirimu, seluruh diri ku ingin miliki. Poniiteru, membuat ku sedih, cinta tak terbalas. Matapun bertemu saat ini kita sebatas teman.” Aku kembali tersenyum dan tidur.


**
Hari demi hari berlalu, musim demi musim berubah, tapi perasaan ku pada Melody masih tetap sama seperti saat awal aku bertemu dengannya. Awal ku lihat senyumannya disaat masa-masa MOS. Sekarang kami sudah menjadi senior dan akan melewati hari-hari kelulusan menuju langkah baru yang lebih besar.
Aku bangkit dari tempat tidur dan jalan menuju kamar mandi. Setelah semua beres aku bergegas menuju motor dan berangkat ke rumah Melody untuk menjeputnya pergi sekolah bersama.
“Pagiii.” Ucap Melody dengan semangat dan tersenyum padaku. Ia sudah menunggu di depan rumahnya.
“Pagi Melody yang cantik.” Balasku sambil menyodorkan sebuah helm kepada Melody.
“Hahaha. Masih pagi udah genit aja.” Melody mengambil helm itu, memakainya, dan naik kemotor.
“Aku ngebut ya, ntar kita telat di hari yang istimewa ini.” Ucapku sambil memacu motorku. Tangan Melody memeluk erat punggungku. 10 menit kemudian kami sudah sampai di sekolah yang sudah ramai. Aku memarkirkan motorku dan berjalan bersama Melody menuju kelas.
“Kita udah besar ya, haha.” Ucap Melody sambil tertawa.
“Haha, iya dong masa kita kecil terus.” Balasku sambil menoleh ke arah Melody.
“Makasih ya Melody.”
“Buat apa?” Tanya Melody bingung.
“Buat segalanya selama ini yang udah kita lakuin bareng.” Melody tersenyum. Ku genggam tangannya, ia menoleh.
“Hehe.” Aku tertawa. Melody tersenyum, kami lanjut jalan ke ruang kelas. Saat hamper sampai aku melepaskan genggamanku dari tangan Melody. Melody masuk kelas duluan.
“Kenapa baru berani sekarang.” Ucapku memarahi diriku sendiri, dan masuk ke kelas.
Aku duduk di kursi ku, Melody ada di depan ku sedang memerhatikan beberapa pengarahan guru kelas untuk hari ini.
“Aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini, saat memperhatikan keindahan mu walau hanya dari belakang, tapi itu sukses membuat rasa sakit timbul di dada.” Aku tersenyum.
“Aku akan sangat merindukan tiap detik bersama mu, walau dalam keheningan.” Pengarahan selesai, lamunanku berakhir.
“Masa depan lu masih panjang, jalan terus sampai lu menemukan segalanya.” Ucap teman semejaku sekaligus sahabat kecil ku. aku tersenyum kecil, dalam hati aku sangat galau.
*
Musim uapacara kelulusan di dalam dada pun angin bertiup, bunga sakura gugur di temapat memikirkan mu. Melody datang menghampiriku.
“Huuh, yang galau nih.” Kata Melody mengusiliku.
“Apaan sih Melo.”
“Aku kuliah di Singapore.” Ucap Melody.
“Aku belum tau sih.” Dalam hati aku sangat benar-benar gundah mendengar ucpan itu.
“Mungkin ini hari terakhir kita bakal bareng-bareng gini.” Ucap Melody lirih.
“Loh kenapa?” Aku sudah benar-benar galau.
“Aku berangkat hari ini.” Melody menatapku, sambil menggenggam tangan ku. tapi aku tetap menatap lurus ke depan.
“Langit biru menunggu dirimu, pergilah.” Ucap ku sambil tetap menatap kosong kedepan.
Melody menggenggam erat tangan ku, lalu bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkanku tanpa kata-kata.
“Rasa yang tak terucap.”

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments