-HEADLINE-
BBM Me
Join This Site
XkresssX Technology Is Valid HTML5
  • Keep Strong And Fight Back
  • Gia48

Popular Post

Posted by : Gia primana August 16, 2013




Hari-hari akan terasa berwarna jika kita dapat berinteraksi dengan orang lain. Hidup di dunia ini juga akan terasa menyenangkan jika ditemani seorang teman, sahabat, atau juga kekasih. Tapi, jika kita tidak dapat melakukannya hidup ini menjadi tidak berwarna, sepi, mungkin bisa saja menyakitkan.
Namaku Ayana Shahab. Tahun ini, aku duduk di kelas 3 SMP. Hari ini adalah hari pertamaku dimana aku akan duduk dikelas baru, karna di sekolahku ini setiap tahun kami selalu dipindah kelas. Tujuannya agar kita semua bisa saling kenal. Meski begitu, aku belum bisa berkomunikasi dengan orang lain.
Sejak berumur 9 tahun, aku tidak pernah berbicara dengan siapapun kecuali dengan orangtua ku sendiri. Itu semua terjadi karna kematian Ibuku. Ibu meninggal karena Ayahku selalu bersikap kasar padanya. Setiap hari Ayahku selalu berkata-kata kasar pada Ibu. Ia selalu mengatakan bahwa Ibuku adalah manusia yang tidak berguna. Hingga akhirnya Ibuku pustus asa dan memilih untuk bunuh diri. Sejak saat itu aku tidak berani berbicara pada orang lain, karena takut mereka tersinggung dengan apa yang aku katakana.
“Bagaimana ini? Apa aku bisa beradaptasi dengan lingkungan kelas yang baru?” Gumamku sambil menghela nafas.
Setiap tahun berjalan seperti ini, memang membosankan hidup seperti ini. Hidup yang dipenuhi akan kesendirian dan tidak berwarna.
Aku menghentikan langkah sebelum masuk kedalam sekolah. Kutatap langit pagi yang indah dan luas, kuhirup udara pagi hari yang sejuk seperti ini. Tapi tetap aku masih belum megerti dengan diriku sendiri, padahal dunia ini begitu luas dan diisi dengan banyak manusia. Tapi kenapa aku tidak berani berbicara pada salah satu dari mereka?
“Hmm… aku heran padamu, pagi-pagi gini udah bicara sendiri” Ucap seorang pria yang sedang berdiri disampingku sembari ikut memandangi langit. Aku hanya diam, tidak berani berbicara padanya lalu beranjak pergi meninggalkannya.
“Hey, kenapa kau pergi? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?” Tanya pria itu dengan suara keras sehingga beberapa siswa yang berjalan melewati gerbang sekolah melihatnya. Namun aku mengabaikannya dan sesegera mungkin berjalan menuju kelas baruku.
Sesampainya dikelas, aku langsung mencari tempat bangku. Kebetulan masih tersisa satu meja dengan dua kursi di deretan paling belakang. Akupun segera duduk dibangku itu. Semua orang terlihat sedang bertukar ceritadengan teman-teman mereka, ada yang kenalan, ada yang saling bertukar pengalaman. Sementara aku, hanya bisa duduk sembari memandang mereka.
“Haha, kita bertemu lagi.” Ujar seorang pria yang tiba-tiba datang dan duduk disebelahku.
Saat aku melihatnya ternyata dia adalah pria yang tadi aku temui didepan gerbang sekolah.
“Oh iya, Kenalin namaku Rio, siapa namamu?” Ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Aku hanya menatap uluran tangan itu, namun tidak menjawab pertanyaannya.
“Hmm…, baiklah kalau begitu. Sepertinya kamu belum mau bicara denganku. Tapi aku boleh duduk disini kan? Soalnya bangku lain udah penuh nih, gimana boleh kan?” Ucap Rio.
Aku tetap diam tidak menjawab pertanyaannya, dan akhirnya Rio menyerah mengajaku berbicara.
Aku heran kenapa dia mau bicara padaku. Padahal banyak orang disekolah yang mengenalku sebagai gadis yang sangat pendiam bahkan ada yang sampai menyebutku bisu lah, stress lah, tapi aku hanya mengabaikannya saja. Setiap hari aku juga tidak nyaman berada disamping orang lain. Tapi kenapa sekarang berbeda? Aku merasa sangat nyaman memerhatikan ia bicara padaku. Sebenarnya aku juga ingin mengajaknya mengobrol. Tapi entah mengapa saat aku ingin berbicara, tertahan dibibirku.
Saat dikelas, Rio selalu berbicara padaku namun aku tetap tidak membalasnya. Beberapa saat setelah bel masuk berbunyi, walikelas baru ku datang dan langsung mengabsen murid dikelasku hingga akhirnya ia menyebut namaku “Ayana”.
“Oh jadi nama kamu Ayana. Selain namamu itu idah namamu juga cantik, secantik orangnya.” Bisik Rio sambil tersenyum.
Kata-kata itu membuatku sedikit kesal namun juga senang karena namaku adalah nama yang indah hingga membuat jantungku terasa berdebar-debar, apalagi saat melihat senyumnya. Aku tak mengerti perasaan apa ini. Tapi yang jelas, Rio adalah orang pertama yang mengatakan hal itu padaku.
(*)
2 bulan telah berlalu dan saat ini aku dan Rio semakin dekat. Walaupun aku tak pernah membalas ajakan Rio untuk berbicara dengannya, namun Rio selalu menceritakan masalah yang ia hadapi. Dia bilang perasaanya menjadi lebih lega setelah menceritakan semuanya padaku. Aku tidak mengerti kenapa aku merasa senang mendengar perasaan Rio telah lega dan mengapa aku sering berdebar-debar saat berada didekat Rio. Mungkinkah aku jatuh cinta? Sejak dulu aku ingin mengutarakan perasaanku padanya, tapi selalu saja bibir ini menahannya.
Siang ini mentari bersinar sangat cerah. Udara pagi yang tadinya sangat sejuk sekarang berubah menjadi sangat panas. Matahari terasa menyengat saat aku berjalan menuju rumah. Dengan rasa lelah aku mempercepat langkahku agar cepat sampai rumah.
“Ayana, tunggu aku!” teriak Rio dari kejauhan lalu menghampiriku. Akupun menghentikan langkahku sejenak.
Setia pulang sekolah kami memang selalu bersama. Tapi karena tadi aku tidak melihatnya keluar dari sekolah, jadi aku pikir dia telah pulang duluan. Karena alasan itulah aku meninggalkannya.
“Jalanmu cepat juga ya? Cocok deh jadi atlet jalan cepat, hahaha” katanya dengan nafas terengah-engah, tapi tetap saja bercanda. Akupun tersenyum mendengar kata-kata itu.
“Heh, kenapa tersenyum, kamu suka ya kalau aku kecapean gini?” tanya Rio dengan nada sedikit mengejek. Aku hanya terdiam memandanginya lalu melangkahkan kakiku kembali.
“Oh, iya Ayana, sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak dari dulu tapi aku takut kau marah. Tapi sepertinya aku akan mengatakan hal ini searang juga.” Ucap Rio hingga membuat langkah kami berdua terhenti kembali.
“Sebenarnya sejak dulu aku sangat ingin mendengar suaramu. Aku tahu kau tidak pernah bicara dengan orang lain, karena itu aku jadi penasaran. Setidaknya katakanlah satu kalimat saja, please.” Pintanya.
Aku sedikit kaget dengan permintaan Rio. Sesaat aku terdiam dan menundukan kepalaku.
“Aku…” kataku dengan suara yang sangat kecil sembari mengangkat kepalaku perlahan. Aku tidak ingin mengatakannya. Tapi aku tidak bisa menahannya.
“Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Rio.
“Aku menyukaimu. Kau adalah cinta pertamaku.” Ungkapku pada Rio. Reflek aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, dan wajahku mulai memerah.
“Akhirnya kau….” Rio tak melanjutkan kalimatnya.
“Tunggu tunggu! Kau bilang apa tadi?” Tanya Rio dengan wajah yang terlihat kaget.
Karena merasa malu aku segera berlari meninggalkan Rio, sementara Rio tetap terdiam mendengar kata-kataku tadi.
“Dasar bodoh! Kenapa aku mengatakannya? Harusnya itu tidak terjadi.” Gerutuku dalam hati dengan wajah semakin memerah.
Aku merasa sangat malu telah mengatakan hal itu walau tanpa sengaja. Tapi perasaan senang juga kurasakan karena akhirnya aku bisa mengatakan sesuatu yang selama ini sangat ingin kuutarakan pada Rio.
Keesokan harinya, aku merasa tak bersemangat untuk pergi kesekolah. Aku takut Rio akan menjauhiku karena kata-kataku kemarin. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Saat aku akan pergi kesekolah tiba-tiba Rio datang dan menarik tanganku. Perasaan itu muncul kembali. Rasa gugup disertai jantung yang berdebar membuat tanganku bergetar.
“Meski suaramu kecil, tapi aku masih bisa mendengar apa yang kau katakana dengan jelas.” Kata Rio dengan wajah yang terlihat serius hingga membuatku takut.
“Karena kau sudah berani mengungkapkan perasaanmu , maka sekarang aku akan…” Rio berhenti bicara, dan tanganku semakin bergetar. Detak jantungku semakin cepat dan keringat dingin mulai bercucuran.
“Aku juga ingin mengatakan bahwa sejak aku bertemu denganmu, aku juga telah menyukaimu.” Sambung Rio sembari menarik tanganku dan mendekapku. Beruntung saat itu langit masih belum begitu cerah, jadi hanya sedikit orang yang melintas.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Ini pertama kalinya aku menyukai seseorang dan terbalaskan. Dengan perasaan senang aku membalas dekapan Rio.
“Terima kasih.” Jawabku.
Sejak saat itu kami mulai menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Rio mengajariku bagaimana caranya agar aku bisa memiliki teman hingga aku mulai berani berbicara dengan orang lain. Aku sangat senang bisa menjadi pacarnya Rio, karena itu aku berjanji tidak akan menyakitinya. Karena aku sangat menyayanginya. Dan karena dia adalah Cinta Pertamaku.
~END~

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments