-HEADLINE-
BBM Me
Join This Site
XkresssX Technology Is Valid HTML5
  • Keep Strong And Fight Back
  • Gia48

Popular Post

Posted by : Gia primana October 22, 2013

Cinta Tak Terucap


Aku adalah seorang murid yang sering membuat masalah di sekolah. Sering kali, aku bolos sekolah. Teman-temanku memanggilku Irfan.
Pagi yang cerah, langit berwarna biru. Mentari menyinari dunia dengan hangat. Aku pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor. Di perjalanan menuju sekolah aku melihat seorang perempuan dengan seragam sepertiku. Sepertinya dia sedang menunggu kendaraan umum. aku memutuskan untuk berhenti di depannya.
“eh, Shinta.” Ternyata benar, dia adalah teman sekelas ku yang bernama Shinta Naomi.
“eh, Irfan. Hmm pasti kamu mau bolos lagi yah?”
“hahaha nggak koq, mau bareng ga?” aku menawarkan Shinta untuk pergi bersama ke sekolah.
“ga usah deh fan. Aku bisa sendiri koq.”
“yakin? Itu di depan udah macet loh.”
“wah, bias terlambat dong. Ya sudah aku bareng kamu ga apa apa nih?”
“iyeee ga apa apa.”
Setibanya di sekolah, aku berhenti di depan gerbang sekolah dan Shinta turun dari motorku. Kemudian aku menuju parkiran motor dan memarkir motorku.
Aku berjalan di koridor sekolah. banyak siswa yang masih berbincang-bincang di luar kelas dan ada siswa yang berkumpul melihat mading. Setibanya aku di kelas, ternyata Shinta telah duduk di kursinya sambil membaca majalah. Rambut panjang yang lurus terurai rapih di bahunya. Membuatku berdiam di pintu kelas dan memandanginya.
“woy, Fan.” Rama teman sekelas ku menepuk bahu ku.
“eh, elu Ram. Bikin kaget gue aja.”
“liatin siapa lu? Waah lu ngliatin Shinta yah?”
“sok tau lu.”
“jujur aja. lu suka sama Shinta kan?”
Mendengar pertanyaan Rama barusan membuat jantungku berdebar kencang.
“udah Fan tidak usah dipikirin, rahasia lu gue jaga.”
“kita duduk dulu lah, ga enak ngobrol di depan pintu.” Aku mengajak Rama duduk. Kami berdua duduk di belakang. kami berjalan melewati meja tempat Shinta membaca majalahnya.
“eh Fan. Terimakasih yah tadi.” Kata Shinta. ketika aku berjalan melewati mejanya.
“iya Shin. Sama-sama.” Aku tersenyum. Dia pun membalas dengan senyuman. Senyuman yang membuatku tidak bisa berpaling darinya.
“eh hayo, dia malah ngeliatin Shinta terus.” Rama menarik tanganku, menuju meja paling belakang.
“Rambut panjang dan lembut selembut sutra, wajah dengan senyuman yang cerah secerah rembulan, mata yang indah seperti pelangi.” Aku berkata dalam benak ku sambil memikirkan senyumannya. Semua yang berada di kelas bagaikan angin, aku hanya bisa merasakan ke hadiran Shinta Naomi.
“Kenapa rasa ini datang secara tiba-tiba? Padahal dia sudah lama menjadi teman sekelas ku.” aku berkata di dalam benak ku. sambil menepis semua banyangan di pikiranku.
Kriing… bel sekolah berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Pak guru masuk ke dalam kelas.
“selamat pagi anak-anak.”
“selamat pagi pak guru.” Jawab seluruh murid di kelas.
“Shinta siapa yang duduk di sebelah kamu?” Tanya pak guru.
“yona pak.” Jawab Shinta dengan tenang.
“kenapa kosong? Mana Yona?”
“Yona sakit pak.” Jawab salah satu murid di kelas.
“kalo begitu saya ingin… Nah, Irfan maju ke depan dan duduk di samping Shinta.”
Seluruh murid menatapku. Jantung ku semakin berdebar. Rasanya berat untuk melangkah.
“IRFAN, CEPAT!!!” pak guru mulai membentak.
Aku duduk di sebelah perempuan yang tiba-tiba aku memendam rasa.
“baik anak-anak sekarang kita akan mempelajari kesetimbangan. Apa yang di maksud dengan kesetimbangan?” Tanya pak guru.
“kesetimbangan adalah alat buat nimbang buah-buahan.” Aku menjawab.
“salah. kesetimbangan adalah…” Pak guru menjelaskan pelajaran kimia. Dua jam berlalu.
“Fan, bangun.” Shinta memukul bahu ku. aku pun tak sadar jika di pertengahan pelajaran kimia aku tertidur
“eh, kok aku di sini Shin?”
“iya, kan kamu di suruh sama pak Mahmud pindah ketika pelajaran kimia.”
“oh iya lupa. Maklum ngantuk nih. Hehehe”
Kriiing… Bel tanda berakhrinya belajar hari ini selesai.
“Shinta, mau bareng lagi ga?” aku bertanya.
“sepertinya ngga deh, aku ada pelajaran tambahan hari ini. Kamu duluan saja.”
“aku tunggu aja yah, kan rumah kita searah.”
“terserah kamu aja deh Fan, asal ga bikin kamu repot.”
“nggak ngrepotin kok.”
“Cie Irfan, cieee Irfan ngobrol berduaan sama Shinta.” Kata Rama dengan suara yang kencang. membuat semua teman sekelas berpandang ke arah aku dan Shinta.
“cieeee…” Semua teman sekelas mulai meramaikan. Aku memandangi wajah Shinta yang mulai memerah.
“Shin, aku tunggu di luar aja yah. Aku keluar kelas duluan sampai jumpa nanti Shin.”
“iya Fan, Sampai jumpa.” Jawab Shinta.
Aku berjalan keluar kelas menuju kantin sekolah. Rama menyusulku dari belakang, beserta teman-teman ku yang lain. Di satu meja kami semua bercanda, tertawa, dan mengobrol tentang pelajaran hari ini.
Waktu terus berlalu hingga yang tersisa di kantin sekolah hanya aku seorang. Tidak lama setelah teman-teman ku pulang Shinta berjalan ke arah ku.
“eh Shinta, pelajaran tambahannya udah selesai?”
“udah Fan. Lama yah?”
“hahaha ngga koq, kalo nunggu kamu ga kerasa.”
“hahaha bisa aja kamu.”
“ya udah kamu tunggu di gerbang sekolah aku ngambil motor di parkiran dulu.”
“oke deh.”
Selama di perjalanan aku dan Shinta mengobrol tentang kesukaan masing-masing. Ternyata Shinta mempunyai kesukaan yang sama dengan ku yaitu kita sama-sama suka basket. Aku mengendarai motor yang di arahkan oleh Shinta menuju rumahnya. Aku mengehentikan motor ku di depan pagar rumahnya.
“ga mampir dulu ke dalam Fan?”
“ga usah Shin, aku pulang dulu yah.”
“oh iya Fan. Terimakasih banyak yah.” Shinta tersenyum.
“sama-sama Shin. Senyumnya simpen buat besok yah. Kalo sekarang udah cukup ntar kalo kamu senyum terus aku bisa diabetes nih. Karena senyuman kamu itu manis banget. Hahaha”
“bisa aja hahaha.” Shinta memukul pundak ku.
“ya udah Shin. Aku pamit pulang yah.”
“iya Fan, hati-hati yah.”
“iya.”
Aku meninggalkan rumah Shinta dan menuju rumah ku.
Hari telah berganti, sekarang telah memasuki bulan juni. Ujian akhir telah lama selesai. Semua siswa di sekolah ku lulus. Shinta banyak membantu ku belajar. Sehingga nilai ujian ku tidak begitu jelek. Aku masih belum menyatakan isi hatiku ke pada Shinta, padahal sepertinya Shinta memiliki perasaan yang sama seperti apa yang ku rasakan. Dari cara dia menatap ku, dari cara dia mengingatkan ku untuk selalu belajar. Shinta merubah sifat ku, yang dahulunya sering bolos menjadi rajin sekolah.
Besok adalah hari ulang tahun Shinta yang ke-18. Aku mengajak Rama pergi menemani ku membeli hadiah untuk Shinta. Setelah membeli hadiah, aku mengantarkan Rama ke rumahnya. Di rumah Rama, aku membungkus hadiahnya dan menyelipkan surat yang telah ku tulis. Setelah selesai membungkus hadiah dengan kertas kado, aku mengobrol dengan Rama dan bercanda.
“wah ga kerasa hari udah sore. Gue pulang dulu yah Ram.”
“oke dah Fan.”
“makasih yah, udah mau nemenin gue beli hadiah.”
“iya, sama-sama Fan. Oh iya kapan lu bilang tentang isi hati lu?”
“besok ketika gue ngasih kadonya, dan gue bakal ngasih kadonya di taman.”
“gue tunggu hasilnya yah. Hahaha” Rama tertawa.
“siap. Gue berangkat dulu Ram.”
Aku melaju dengan kencang. di tengah perjalan, aku memikirkan apakah dia suka dengan kado yang akan ku beri.
“Kado. Oh iya kadonya tertinggal di rumah Rama.” Aku berkata dalam benak ku. Aku mengambil keputusan untuk memutar balik dan menuju rumah Rama.
Shinta mengingatkan ku, agar besok di saat hari ulang tahunnya aku hadir. Namun Shinta masih menunggu konfirmasi dari diri ku. karena kesal menunggu akhirnya Shinta menanyakan keberadaan ku kepada sahabat dekat ku. Shinta mengambil hpnya dan mulai mencari nomer Rama kemudian Shinta mulai menelpon Rama.
“halo, ada apa Shin? Tumben loh kamu nelpon aku.”
“hehe mau nanya aja, Irfan lagi sama kamu? Koq aku sms dia tapi ga di bales yah?”
“hahaha kangen yah sama Irfan? Tadi sih iya Shin. tapi tadi sore dia pulang. Tidur kali tuh orang.” Kata Rama.
“hahaha si Irfan biasanya juga tidurnya malem. Ngga biasanya dia tidur cepet.”
“mana aku tau Shin. emang kenapa? Ntar aku kabarin Irfan deh.”
“aku mau nanya aja. Besok itu hari ulang tahun aku. Dia jadi dateng ga?” Tanya Shinta.
“pasti dateng Shin. toh dia juga suka sama kamu. Eaaa.” Rama mulai bercanda.
“haha bisa aja nih. Ya udah ntar tolong kabarin Irfan yah.”
“oke deh Shin.”
Shinta menutup pembicaraannya. tidak lama setelah Shinta menutup telpon. Rama langsung menelpon ke rumah ku.
“halo, selamat malam.” Kata mamah ku.
“malam tante, ini aku Rama, Irfannya ada tante.?” Tanya Rama.
“Irfan baru saja mengalami kecelakaan, jadi dia sekarang berada di rumah sakit.” Mamah ku menjelaskan dengan menahan air mata.
“yang bener tante? Terus lokasi rumah sakitnya dimana?”
“iya… Ir Irfan sekarang berada di rumah sakit awal bross bekasi, ruangan 303.” Air mata mamah ku jatuh.
“ya sudah tante. Yang sabar yah, aku mau ke rumah sakit sekarang.”
“terimakasih yah Ram.”
“iya tante.”
Rama menutup telponnya. “apa aku beritahu berita ini kepada Shinta? Ah lebih baik ini menjadi rahasia sementar.” Kata Rama dalam benaknya. “loh kado buat Shinta tertinggal. tenang Fan, kado lu akan gue sampaikan kepada Shinta.”
Setibanya di rumah sakit, di depan ruangan, Rama bertemu dengan ayah ku.
“om, bagaimana keadaan Irfan?”
“om juga belum tau, Ram. Di dalam dokter masih memeriksanya.”
Mata Rama mulai Nampak berkaca-kaca. Rama terbayang dengan kegiatan membolos bersama ku, saat-saat kabur sekolah, aku dan Rama memanjat pagar belakang, dan saat tertawa di kantin sekolah. bayangan itu membuat mata Rama semakin berkaca-kaca dan akhirnya meneteslah air matanya.
Pintu ruangan di buka dan dokter yang memeriksa Irfan keluar.
“bagaimana ke adaan anak saya dok?”
“anak bapak harus di oprasi malam ini juga, kami akan menyiapkan semuanya.”
“baik dok.” Ayah ku haynya bisa berpasrah diri.
Dokter berjalan cepat, dan diikuti oleh suster yang mendorong tempat tidur. Ayah ku dan Rama hanya bisa meliahat ku yang tak sadarkan diri, terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dan di dorong oleh suster menuju ruang oprasi.
Beberapa jam berlalu, dokter keluar dari ruangan oprasi.
“gimana hasilnya dok?” ayahku bertanya.
“nyawa anak bapak tidak berhasil tertolong. Kami telah berusaha sekeras mungkin. Inilah takdirnya. Saya mohon maaf.”
Ayah ku berlutut lemas dan menangis di depan dokter. Rama pun berbalik badan dan tidak bisa menahan tangisannya. Dokter membantu ayah berdiri.
“sudah pak, ini memang sudah takdir, ikhlaskan.”
“iya dok, saya paham tapi saya benar-benar merasa kehilangan” kata ayahku. Kemudian ayah mebalikan badan dan mngeluarkan hpnya.
Ayah ku langsung memberi kabar kepada ibu ku yang berada di rumah. Ibu ku yang berada di rumah menjagai adik-adik ku setelah mendengar kabar dari ayah, langsung menangis tak tertahankan.
Setelah memberi kabar, Rama menghampiri ayah ku.
“yang sabar yah om. Saya juga merasakan kehilangan. Irfan adalah sahabat saya om.”
“terimakasih yah. Kamu tidak pulang? Sekarang sudah jam Sembilan malam loh.”
“iya om, saya pamit dulu om.”
Rama langsung menuju rumahnya dan menyampaikan berita duka ini kepada orang tuanya. Orang tuanya pun terkejut mendengar berita duka ini. Padahal Irfan baru saja bertamu ke rumahnya, namun sekarang telah di panggil oleh yang maha kuasa.
“Ya ampun, bagaimana aku memberi tahu Shinta tentang berita duka ini, Irfan pasti tidak ingin melihat Shinta tersedih, apalagi besok adalah hari ulang tahunnya.” Kebingungan merasuki pikiran Rama.
Rama merencanakan untuk memberi kabar duka ini setelah pesta ulang tahun Shinta selesai.
Acara ulang tahun Shinta akan di mulai jam sembilan pagi. Rama pergi ke pemakaman terlebih dahulu kemudian menuju rumah Shinta.
Para tamu telah menunggu kehadiran sang putri hari ini. Hari ini adalah hari yang sangat di nantikan oleh Shinta, karena hari ulang tahunnya kali ini Shinta akan mengumumkan seorang yang sangat di cintainya.
Dia aula Rama bertemu dengan adiknya Shinta, yaitu Sinka.
“Sinka, sini deh!” Rama memanggil Sinka.
“ada apa kak?”
“Shinta akan mengumumkan seseorang yang dicintainya yah?”
“iya kak. Kenapa sih?”
“orang itu Irfan bukan?”
“iya, koq kakak tahu? Jangan kasih tahu siapa-siapa yah, ntar ga seru lagi.”
“iya lah, aku teman dekatnya kak Irfan, ada berita duka nih. Tapi untuk saat ini jangan kasih tau kak Shinta dulu yah!”
Rama menceritakan semuanya apa yang terjadi. Sinka hanya bisa menunduk dan memikirkan bagaimana jika kakaknya tahu.
“ntar bilang aja, Irfan datangnya malam.” Kata Rama
“oke deh kak.”
Acara ulang tahun akan segera dimulai. Semua tamu memenuhi ruang tengah rumah. Shinta turun dengan perlahan, rambutnya berkibar tertiup angin membuatnya semakin cantik, wajah yang cerah secerah rembulan. Shinta berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang tengah. Semua tamu menatapnya dan terkesima akan kecantikannya. Shinta berhenti di depan kue ulang tahunnya. Shinta melirik satu persatu tamu yang datang.
Wajah Shinta berubah setelah mengetahui Irfan tak kunjung hadir di acaranya.
“kak Shinta. Kak Irfan datengnya malem.” Sinka memberi tahu kakaknya seperti yang di rencanakan.
“oh begitu yah, kalau begitu aku harus menunggu dia dong.”
“eh jangan di tunggu kak, lebih baik kita lanjutkan saja pestanya. Aku yakin kak Irfan akan memberi kejutan buat kakak.” Kata Sinka, walaupun Sinka tahu dia telah membohongi kakaknya, tapi ini demi kebaikan kakaknya.
“baiklah kalau begitu.”
Acara berlanjut hingga akhir acara, semua tamu berjabat tangan dengan Shinta dan mengucapkan selamat serta doa kepada Shinta. Rama adalah tamu yang terakhir berjabat tangan dengan Shinta.
“eh Ram, Irfan mana sih?” Tanya Shinta.
“ikut aku yuk!” Rama mengajak.
“kemana?”
“udah ikut aja.” Rama memaksa.
“iya iya, tunggun sebentar.”
Akhirnya Shinta dan Rama pergi menuju taman tempat di mana aku dan Shinta sering bersama. Taman yang bersih dan indah. Di tengah-tengah taman terdapat air mancur yang menambah keindahan taman. Rama dan Shinta duduk di tampat biasa aku dan Shinta duduk di taman sepulang sekolah.
Rama mengeluarkan kado dari tasnya dan di berikan kepada Shinta. Kado yang berbentuk kubus yang di bungkus dengan kertas kado berwarna pink. Karena pink adalah salah satu warna kesukaan Shinta.
Shinta membuka kertas kadonya. Sebuah jam tangan emas, dengan tulisan nama Shinta pada jamnya di keluarkan dari kotaknya. Shinta mencari sesuatu di dalam kado, kemudian dia mendapatkan surat di dalamnya.
“selamat ulang tahun yang ke-18 yah, semoga panjang umur dan selalu bahagia. Oh iya, kamu suka kado dari aku ga? besok aku mau mengajak kamu ke taman,kalo kamu suka dengan jam tangan dariku, besok kamu pakai yah. Jam empat sore aku tunggu di taman yah.” -Irfan
“loh, koq kamu yang menyampaikannya Ram? Irfan mana?”
“Irfan udah meninggal Shin, dia kemarin mengalami kecelakaan.” Mata Rama mulai berkaca-kaca.
“kamu ga bohongkan Ram? Ini hari special buat aku Ram, kamu ga bohong kan?”
Air mata Rama turun tak tertahan kan, Rama hanya bisa diam dan kembali menangis. Shinta pun mentap surat dari Irfan. Semua kenangan dari awal sampai akhir terlintas dan terbayang jelas di pikiran Shinta. Sehingga membuat Shinta semakin bersedih dan berlinang lah air mata Shinta.
“Ram, anter aku ke tempat Irfan di makamkan.” Kata Shinta sambil menghapus air matanya.
“iya Shin.”
Rama mengantarkan Shinta sampai pada tempatnya. Dimana di sana bertuliskan M.IRFAN pada batu nisannya. Shinta menatap tanah merah sambil menjatuhkan air mata. Rama yang tidak bisa menahan tangis mebalikan badan dan tidak ,melihat kearah kuburan.
“Irfan, terimakasih banyak yah, selamat jalan. I love you.” Shinta menghapus air matanya.
The end

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments